Menampilkan Hinduisme di Kota Metropolitan Bangkok: Pertunjukan Ritual Agama dan Keanekaragaman Agama di satu lingkungan buddis di perkotaan Thailand

Erick White

Dalam beberapa dekade terakhir ini, semakin bertambah jumlah penganut agama Buddha di Thailand yang beralih ke dewa-dewa Hindu sebagai sumber kebajikan yang dapat memberikan mukjizat dan kebaktian keagamaan. Di Bangkok saat ini terdapat banyak situs publik yang membangkitkan rasa ingin-tahu mengenai dewa-dewa Hindu dan ritual kebaktiannya dan juga, mengenai Hinduisme itu sendiri. Terdapat beberapa kuil Hindu yang didirikan oleh imigran India sebagai tempat untuk komunitas diaspora, seperti kuil Sri Mahamariamman (Wat Khaek), kuil Dev Mandir, kuil Durga Mandir, and kuil Vishnu (Wat Wisanu). Ada beberapa kuil yang dibangun oleh etnis Thai Buddha untuk menyembah dewa-dewa Hindu, seperti Devasathan (Bot Phram) yang dibangun untuk para pendeta istana (brahmana) pada awal dinasti Chakri atau candi Siwa besar yang terdapat di jalan Ramindra yang dibangun baru-baru ini. Terbentang sejumlah kuil umum yang berdiri sendiri yang memuja patung dewa-dewa Hindu dan dibangun oleh beberapa orang, lembaga swasta atau organisasi pemerintah. Patung Dewa Brahma yang ada di Kuil Erawan adalah salah satu contoh patung paling terkenal, bahkan beberapa kuil untuk Dewa Indra, Dewa Narayana, Dewi Laksmi, Trimurti dan Dewa Ganesa juga kini terletak dekat dengan persimpangan Ratchaprasong dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Beberapa jenis patung dan kuil dewa Hindu dapat dengan mudah ditemukan baik di beberapa biara Budha (wat) dan tempat suci pan-sektarian untuk menyembah dewa (thewasathan) di seluruh metropolitan Bangkok.

Kuil Ganesa di Ratchaprasong

Sebagai ruang publik untuk tempat beribadah agama Hindu oleh kelompok etnis India atau untuk tempat pemujaan keagamaan oleh etnis Thai yang Buddis kepada dewa-dewa Hindu, tempat-tempat peribadatan ini memiliki tujuan penting dalam menciptakan kebersamaan sosial dan khayalan publik akan Hinduisme, baik untuk kelompok etnis Thailand maupun etnis India di Bangkok. Pada saat beberapa kuil Hindu (atau kuil Ramindra Siva yang berhubungan dengan organisasi Hindu) menyelenggarakan dan mengembangkan upacara-upacara Hindu sebagai festival umum berskala besar, di saat itu pula dunia keagamaan, khayalan ritual dan logika peribadatan penganut Hindu di India dan penganut Buddha di Thailand hampir saling berpadu-kait satu sama lain. Secara bersamaan – baik direncanakan ataupun tidak direncanakan – dalam sebuah karya bersama yang menghasilkan upacara simbolis dalam siklus ritual agama Hindu, yang terlihat tidak hanya kualitas beragama Hindu lazimnya oleh komunitas India, tetapi juga meliputi ketaatan dalam beragama dari pandangan non-sektarian dan juga perbedaan dengan pemeluk agama Buddha di Thailand secara umum. Melalui sejumlah titik-temu keagamaan ini, para penggiat, masyarakat, dan pemangku otoritas Buddha dan Hindu pada dasarnya berkaitan erat satu sama lain, memunculkan pertanyaan menarik mengenai keanekaragaman, keikutsertaan, toleransi dan identitas agama dalam khayalan sosial masyarakat Thailand yang semakin berkembang dan berkarakter perkotaan.

Kuil Sri Mahamariamman

  

Perayaan Navaratri

Perayaan Navaratri yang dirayakan selama sepuluh hari setiap bulan Oktober di kuil Tamil Sri Mahamariamman yang terletak di daerah Silom merupakan contoh sebuah ikatan keagamaan nan rumit yang timbul ketika pertunjukan seremonial Hindu direncanakan, dikelola dan ditampilkan dalam skala besar di ranah publik perkotaan Thailand baik dari dan untuk komunitas plural sektarian. 1 Selama perayaan multi-aspek tersebut, para dewi Hindu – Durga, Laksmi, Umathewi, Saraswati – diundang untuk turun ke kuil dan disembah bersama dengan para pasangan dan pelayannya. Festival tersebut setiap harinya diatur dalam pengelolaan yang terkoordinasi dari 1) persembahan korban umum secara teratur oleh anggota-anggota perorangan dari masyarakat umum dan 2) persembahan korban khusus di tiga waktu yaitu pagi, siang dan malam oleh para pendeta kuil. Prosesi publik di luar kuil pada malam terakhir adalah puncak penampilan dari ritual di perayaan tersebut. Inti dari prosesi tersebut adalah tiga orang etnis India yang bertugas sebagai cenayang yang dirasuki oleh dewi-dewi yang berbeda dan lima kereta kencana yang membawa patung Ganaphathi, Subramanian, Krisna, Kataragama, dan Umathewi. Sejumlah besar rombongan musisi, penari, pendeta dan pemeluk agama mengelilingi para cenayang dan kereta kencana selama prosesi berjalan dengan pelan keluar dari kuil sejauh tiga kilometer dengan rute melingkar yang kira-kira memakan waktu lebih dari tujuh jam untuk menyelesaikan prosesnya. Kurang lebih sepuluh ribu pemeluk agama Buddha di Thailand menyiapkan altar besar berhias pada tiap sisi rute prosesi, mereka kadang-kadang menunggu sampai pukul 2 atau 3 pagi untuk menerima berkah dari para cenayang, pendeta dan dewa yang berturut-turut melewati mereka.

Mengamati ritual malam pada malam pertama perayaan Navaratri

Selama sembilan hari pertama perayaan, lebih dari 90% peserta umum berasal dari etnis Thai dan etnis Tionghoa-Thai Buddis, sedangkan pada malam penutupan karena jumlah peserta dari Bangkok dan sekitarnya maupun dari provinsi lain membengkak jumlahnya, jumlah persentase etnis India yang bergama Hindu menyusut lebih jauh. Perayaan Navaratri Sri Mahamariamman, pada dasarnya, adalah acara ritual tahunan utama dalam komunitas Hindu Tamil Bangkok yang dipimpin dan dikelola oleh para pendeta ahli ritual meski mayoritas dari pemuja, peserta dan bahkan penyokongnya bukan orang India ataupun orang Hindu. Pembauran yang rumit antara ritual persembahan, korban dan pemujaan ini selama sepuluh hari perayaan, karena itu, harus bergema secara paradigma sebagai Hindu dan secara otentik, Buddha. Bahkan yang lebih mengesankan, perayaan Navaratri sesungguhnya memfasilitasi dan membantu perkembangan kemajemukan dari pelaku keagamaan, sudut pandang pengabdian dan naskah-naskah ritual dari dalam komunitas Hindu dan Buddha, dan semuanya merasa puas selama perayaan.

Altar sementara selama rute prosesi pada malam terakhir perayaan Navaratri

 

Keanekaragaman dari Umat Beragama dan Naskah-Naskah Ritual

Meskipun sebagai penduduk minoritas, sekelompok etnis India yang beragama Hindu memainkan peran yang penting dalam pertunjukan Navaratri. Para pendeta Brahmana, cenayang dari India, orang yang membantu selama ritual dan musisi klasik adalah pemangku otoritas utama yang berwenang dalam melakukan ritual selama perayaan. Di samping itu, para pengurus kuil, penyandang dana, jurnalis, dan videografer yang berasal dari komunitas lokal India di daerah Silom adalah aktor tetap yang juga penting dalam mengorganisasi dan mengelola kegiatan seremonial harian yang berlangsung dari pagi hingga akhir petang. Meskipun perseorangan dan keluarga yang taat dari komunitas lokal India dan para pedagang dari kalangan mereka merupakan bagian terbesar dari penganut Hindu yang turut-serta dalam perayaan, perwakilan dari dinas keagamaan provinsi Tamil dari India dan juga sejumlah penganut Hindu di Malaysia dan Singapura juga hadir. Meskipun belum menjadi tujuan utama buat peziarah dan turis dari Tiongkok seperti perayaan vegetarian Tionghoa yang diselenggarakan di Phuket, di era media dan transportasi global dewasa ini, penonton perayaan Navaratri berasal dari dan luar Bangkok.

Para pedagang di luar kuil Sri Mahamariamman

Berbagai macam golongan pemeluk agama Buddha di Thailand juga turut serta dalam perayaan. Sebagai contoh, beberapa polisi dan militer etnis Thai yang menyediakan jasa keamanan, pedagang kaki lima yang menjual peralatan ritual, dan para pekerja media yang melaporkan berlangsungnya acara. Yang lebih penting dari itu, banyak penduduk lokal Thailand dan etnis Tionghoa-Thai buddhis adalah yang berwenang dalam kehidupan keseharian di kuil Sri Mahamariamman. Mereka sebagai pengurus kuil, penyandang dana dan pembantu ritual. Sejumlah besar dari para pembantu ritual kuil adalah penganut agama Buddha di Thailand, dan peran mereka cukup penting dalam mengelola sejumlah besar orang yang datang bersembahyang yang berasal dari masyarakat umum pemeluk agama Buddha di Thailand yang masuk kuil secara berbondong-bondong selama perayaan. Para pengunjung adalah pemeluk agama Buddha di Thailand yang utamanya berasal dari Bangkok, dari beberapa wilayah yang berbeda. Sebagian besar dari meraka adalah datang sendiri, berpasangan dan bersama keluarga yang hanya mempunyai keterikatan yang terbatas pada kuil ataupun dewa-dewa Hindu, tapi mereka melihat perayaan sebagai satu-satunya kesempatan yang ideal untuk mendapatkan bantuan dan berkah. Ada beberapa tipe penganut agama Buddha di Thailand, yang secara teratur kembali ke kuil selama perayaan dan berlama-lama untuk ikut-serta dalam tiga kali upacara perayaan harian. Beberapa diantara mereka merasa berhutang karena bantuan spiritual yang mereka terima sebagai hasil dari kaul dan persembahan pada kuil. Sebagian lagi lebih tertarik untuk memuja dewa-dewa Hindu secara umum, dan perayaan Navaratri berfungsi sebagai kesempatan ideal untuk menjadikan dan memperkuat ketaatan tersebut. Beberapa cenayang profesional yang mengidentikkan diri mereka secara mendalam dengan para dewa dan dewi Hindu yang secara tetap merasuki mereka dan mereka berhutang karma sebagai hamba-hamba duniawi.

Kereta kencana Kataragama yang ditarik oleh para pemuja dewa

Pada malam terakhir prosesi publik, jumlah etnis Thai Buddha makin bertambah. Sejumlah besar polisi, sukarelawan dan pedagang datang untuk mengelola dan melayani banyak pengunjung. Puluhan ribu pemuja yang tinggal di wilayah metropolitan Bangkok dan tertarik untuk memperoleh kesempatan guna mencari bantuan dari para dewa datang untuk menyaksikan prosesi. Sejumlah besar individu dan kelompok tersebut memasang altar sementara sepanjang rute prosesi, akan tetapi, sejumlah kecil dari mereka adalah kelompok pemuja dewa-dewa Hindu atau para cenayang profesional yang dibantu oleh para pengiring pribadi mereka. 2

Hampir semua pemuja dan cenayang ini belum ikut-serta di salah satu dari ritual-ritual yang sebelumnya diselenggarakan di kuil Sri Mahamariamman selama perayaan, dan beberapa dari mereka menempuh perjalanan jauh seperti dari Phitsanulok dan Khon Kaen. Bagi pengunjung umumnya, altar-altar sementara yang berada sepanjang rute prosesi ini – dan juga dengan tambahan tontonan persembahan ritual dan seremonial – sering menjadi tujuan utama dari rasa ingin-tahu dan tertarik akan kegiatan keagamaan, khususnya karena mereka terhimpit di antara kerumunan besar yang mempersulit akses ke kuil. Baik sebelum dan setelah prosesi, masyarakat umum mencari berkah dari para dewa, perantaraan dan saran dari berbagai cenayang yang bergerombol di depan altar. Rute prosesi perayaan memang menjadi ajang pementasan sekunder nan otonom bagi para pengunjung etnis Thai Buddis yang ramai dan secara spontan mengorganisir diri mereka sendiri di luar jangkauan dan kendali langsung dari pendeta kuil yang berwenang. Bahkan, jelas bahwa kemungkinan-kemungkinan yang menjadi tontonan masyarakat seperti ketaatan, kerasukan ruh, pertunjukan berlebihan dan kualitas keagamaan eksotis yang secara tersirat ditolak oleh agama Hindu ortodoks, justru dianggap menarik oleh begitu banyak pengunjung dan peserta di bagian akhir dramatis perayaan Navratri.

Mencari berkah dari cenayang

  

Keanekaragaman, Keikutsertaan dan Toleransi di Metropolitan Buddis

Peran yang saling terkait dari masyarakat Hindu dan Buddha di Bangkok dalam penampilan perayaan Sri Maha Mariamman Navratri didasarkan, sebagiannya, dalam serangkaian perkembangan sosial berskala besar di Thailand modern. Internet, media massa nasional dan pariwisata global telah membuat kepercayaan dan pelaksanaan perayaan agama Hindu, baik di India dan Thailand, lebih terlihat, dapat dimengerti, dan dapat diakses oleh etnis Thai Buddis. Para pemilik modal di Thailand telah menciptakan ceruk pasar dalam budaya estetika, material dan sastra keagamaan Hindu. Urbanisasi dan perkembangan jaringan transportasi telah membuat keberlangsungan pertemuan keagamaan antara penganut agama Buddha dan Hindu sebagai kemungkinan yang wajar bagi masyarakat Thailand. Keberagaman pengusaha keagamaan yang melibatkan diri dalam gabungan budaya spiritual kreatif, meski belum diatur hukum, telah berfungsi sebagai makelar budaya antara dua komunitas agama. Suatu perkembangan kualitas keagamaan populer non-sektarian yang menitikberatkan pada mukjizat, ketaatan, pemikiran filsafat, dan perasaan kegembiraan yang meluap telah membangkitkan penyerbukan-silang antar agama di luar kendali para pemimpin ortodoks. Namun perkembangan ini juga menimbulkan pertanyaan baru.

Perayaan Sri Maha Mariamman Navratri jelas merupakan ritual agama Hindu, tetapi dapatkah itu juga disebut sebagai upacara agama Buddha? Bagaimana seseorang menyematkan label sektarian ketika mitologi dominan dan naskah ritual upacara berakar dalam satu komunitas agama namun sebagian besar orang yang ikut-serta di dalamnya berasal dari komunitas agama lain? Haruskah seseorang memperlakukan siklus ritual dari perayaan yang berlangsung dalam kuil selama sembilan hari pertama perayaan sebagai sesuatu yang secara deskriptif maupun analitis berbeda dari hari terakhir prosesi ketika etos ritual, logika ketaatan dan kewenangan keagamaan mempunyai peran ganda? Apakah perayaan adalah contoh penyatuan aliran, pembauran, penciptaan atau penggabungan budaya?

Selain itu, bagaimana seseorang menjelaskan perbedaan kenyataan sosial dari keanekaragaman, keikutsertaan dan toleransi beragama pada penganut Buddha di Thailand saat ini? Ketika terdapat banyak contoh kegiatan bersama dan asimilasi antara komunitas agama Buddha, Hindu dan Tionghoa, sedikit kasus ditemukan di antara komunitas Buddha, Kristen dan Muslim. Sampai sejauh manakah adanya perbedaan dalam hubungan komunal lintas sektarian akibat pola demografi agama yang berlawanan, strategi lokalisasi agama, tuntutan untuk pemurnian agama, kenangan sejarah koeksistensi agama, dan ketakutan akan pengaruh agama lain dan konflik? Dapatkah seseorang mengharapkan kegiatan ritual bersama dan penyerbukan-silang agama sebagai jembatan yang menghubungkan antara penganut Buddha dan semua penganut agama minoritas di Thailand, atau lebih tepatnya beberapa strategi alternatif harus dibina dalam usaha mencapai toleransi inklusif yang tahan lama?  

Erick White
(Universitas Cornell)

 Issue 19, Kyoto Review of Southeast Asia, March 2016

Notes:

  1. Detil empiris pembahasan ini diambil dari pengamatan seperti peserta, pada Oktober 2015.
  2. Penulis menghitung lebih dari 500 altar sementara sepanjang rute prosesi pada tahun 2015. Kebanyakan merupakan kuil yang dibangun dengan keindahan, direncanakan dengan hati-hati menurut mereka yang membutuhkan uang, tenaga kerja dan waktu dalam jumlah besar untuk merancang, membangun dan merakit.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*