Pendahuluan: Mempelajari komik dari Asia Tenggara

Jaqueline Berndt

   

Semenjak pergantian milenium, komik telah menarik perhatian yang lebih besar baik secara kritis maupun secara ilmu pengetahuan secara tidak terduga. Sangat jelas, hal ini dilatarbelakangi oleh tiga pergerakan yang lebih besar: yang pertama, ekspansi dari ekonomi pasar yang hampir tak tertahan, termasuk konsumerisasi dan suatu hubungan yang baru mengenai ‘budaya populer’; yang kedua, proses-proses globalisasi, menunjukkan, sebagai contoh, di seluruh dunia penyebaran cepat dari manga dan anime Jepang- kurang sebagai karya-karya spesifik tetapi lebih sebagai suatu model budaya-industri yang bisa diadopsi oleh masyarakat-masyarakat yang lain, seperti yang dinyatakan oleh Shiraishi Saya (2013: 236-237); dan yang ketiga, kebangkitan dari masyarakat informasi yang telah menyebabkan kesadaran akan bentuk-bentuk budaya yang menuntut partisipasi dan transformatif, cukup dengan menyebutkan “fan-art” (karya seni yang diciptakan oleh penggemar dari suatu karya seni atau fiksi tertentu), Cosplay (mengenakan kostum atau aksesori tertentu untuk menggambarkan suatu karakter secara spesifik) dan Social Networking Services (Layanan Jaringan Sosial). Cukup menarik bahwa komik memperoleh pengakuan publik tepat pada saat penghancuran identitas komik, sebagaimana yang secara mendasar telah dibentuk oleh media cetak, mulai terjadi.

Pergerakan-pergerakan ini telah menfasilitasi penelitian mengenai komik di dalam Media studies (cabang ilmu yang pada khususnya mempelajari tentang media massa), antropologi budaya, sosiologi, dan bahkan lebih jauh lagi. Pendahuluan dari suatu buku bunga-rampai tentang budaya populer di Asia Timur dan Asia Tenggara dengan bangga membuat catatan tentang hal tersebut: ‘satu kriteria mengenai legitimasi dari suatu subyek di dunia akademik adalah ketika para ekonom dan peneliti politik mulai menganggap serius subyek tersebut’ (Otmazgin & Ben-Ari 2013: 3). Hak istimewa semacam itu biasanya mengindikasikan suatu kecenderungan atas analisa secara makro ketimbang pembahasan mendalam secara menyeluruh mengenai kasus-kasus individu: Komik pada umumnya berguna hanya sebagai sumber material tanpa adanya ciri-ciri media spesifik yang diakui. 1 semacam itu, akan tetapi, kelihatannya lebih disebabkan oleh transformasi dari kesarjanaan akademis selama dekade terakhir dibandingkan disiplin ilmu politik yang serupa. Empat puluh tahun sebelum munculnya buku yang dikutip di atas, Benedict Anderson menggunakan kartun dan komik di Indonesia untuk mempelajari komunikasi politik di Indonesia dengan cara yang mengherankan dan tidak wajar pada saat ini. Asumsi-asumsi dasar seperti ‘Bentuk juga dapat bercerita sebanyak isi’ (1990:156), atau pengamatan bahwa kolom-kolom komik yang bertujuan untuk menghibur, sama berbedanya dengan satu gambar kartun politik, membuat para peneliti harus ‘berganti ke gaya, dan pada akhirnya konteks’ (ibid: 167), adalah ketinggalan jaman; mereka justru merekomendasikan pada diri mereka sendiri untuk menggunakan komik khususnya untuk studi-studi yang berkaitan dengan area kontemporer, dengan studi tentang Jepang memimpin karena kemanjuran terkini dari manga dan media-media yang sejenis. Termasuk di sini adalah kecenderungan untuk penelitian tentang manga atas berbagai bidang budaya populer dan ilmu-ilmu sosial, sementara analisa menurut naskah, penyelidikan kritis secara visual dan pertimbangan-pertimbangan tentang keindahan lainnya cenderung diragukan seolah-olah komik-komik dari Jepang pada khususnya dan komik-komik dari Asia pada umumnya tidak memberi keuntungan terhadap upaya-upaya akademis tersebut sebagaimana yang dinikmati oleh saudara-saudara mereka di Amerika dan Eropa atas nama ‘novel grafis’ di berbagai fakultas sastra di sana.

Akan tetapi artikel-artikel di dalam edisi spesial kali ini tidak mutlak didasarkan pada suatu kerangka studi wilayah. Ketimbang memprioritaskan studi tentang Asia Tenggara, artikel-artikel ini berhubungan dengan komik dan penelitian tentang komik. Ini tidak berarti bahwa mereka tidak dapat berkontribusi terhadap studi tentang Asia Tenggara, hanya saja kontribusi seperti itu akan berlanjut melalui studi-studi tentang komik, dan oleh karena itu perlu untuk disebut di sini dengan ringkas.

Di dalam suatu skala global, studi tentang komik mengalami ekspansi berdasarkan budaya-budaya yang terdefinisi secara geopolitik dan linguistik dengan Inggris, Perancis, dan Jepang- atau komik-komik Amerika, bande dessinee dan manga- merupakan yang paling banyak diminati. Suatu fokus pada komik dari Asia Tenggara, seperti yang dicoba di dalam edisi ini, masih cukup jarang. Biasanya, penelitian tentang budaya komik didominasi oleh perbandingan di antara Amerika Utara, Eropa Barat, dan Jepang, dan kadang-kadang mencakup Korea, dan juga pasar berbahasa Cina, pada khususnya dalam kaitan dengan manga. 2 Yang menjadi pertanda dari keberatsebelahan tersebut adalah proyek komik Indonesia-Jepang, disponsori dan diimplementasikan oleh The Japan Foundation (Yayasan Jepang) pada tahun 2008 yang diadakan di dalam rangka peringatan 50 tahun hubungan diplomatik antara kedua negara. 3 Meskipun hasil koleksi cerita-cerita pendek yang diedit oleh Darmawan dan Takahashi pada awalnya direncanakan untuk dipublikasikan di dalam dua bahasa, Indonesia dan Jepang, edisi di dalam bahasa Jepang tidak pernah dipublikasikan, dan dengan demikian mencegah kritikus-kritikus manga Jepang dan para pembaca untuk mempelajari sesuatu mengenai komik-komik dengan gaya non-manga yang berasal dari Indonesia dan Jepang.

Di dalam edisi ini, peran dari ‘manga yang sebenarnya’ di Asia Tenggara juga tidak memperoleh fokus utama. Fokus dari edisi ini, adalah justru lebih mengenai komik di dalam keberagamannya, mulai dari cerita otobiografi, buku harian bergambar, dan kolom dalam blog, dalam bentuk esai sampai pada karya berorientasi pendidikan (berkaitan dengan sejarah dan juga pendidikan seksual) dan fiksi yang bertujuan untuk menghibur. Yang menarik, sebagian besar dari contoh yang diperkenalkan tidak lagi masuk ke dalam genre yang dapat dikategorikan sejalan dengan budaya seperti ‘Jepang’, ‘Indonesia’, atau ‘Vietnam;’ melainkan mereka dikarakterisasikan oleh beragam perampasan untuk menghasilkan sesuatu yang mungkin dapat disebut dengan perpaduan gaya. Lebih jauh lagi juga disarankan bahwa pengelompokan ‘manga’ sebagai hasil karya yang komersial, terformulasi, dan berkaitan dengan penggemar di satu sisi, dan ‘komik alternatif’ sebagai cerita bergambar yang bersifat pribadi dan inovatif di sisi yang lain, juga tidak dapat sepenuhnya diterapkan di dalam kasus Asia Tenggara. Di sini, ke dua sisi, yang paling sering diasumsikan sebagai timbal-balik eksklusif dari sudut pandang Barat atau Jepang, kelihatannya memiliki banyak persamaan sejauh status budaya dan ekonomi dipertimbangkan: keduanya tidak memungkinkan seniman untuk hidup hanya dari pembuatan komik.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, peneliti-peneliti muda dari Asia Tenggara, yang biasanya berbasis di Jepang dan terlibat di dalam studi-studi tentang manga, memusatkan perhatian mereka pada komik dari daerah asal mereka dan berusaha untuk memperkenalkan komik tersebut di Jepang dengan suatu cara yang kritis. 4 Bahkan pada paruh akhir 1990, Shiraishi Saya, seorang antropolog budaya yang belajar di Amerika Serikat dan merupakan seorang pakar tentang Indonesia, telah mulai menarik perhatian terhadap bidang ini, pada awalnya dengan kaitan atas penyebaran manga Jepang, tetapi segera setelah itu juga dengan kaitan atas budaya komik lokal asli. Terbitnya tulisan-tulisan beliau dalam bahasa Jepang pada tahun 2013 dapat membantu untuk menemukan kembali karya-karya awal ini dan membaca mereka di dalam hubungan terhadap tantangan-tantangan metodologis pada saat ini. Yang juga layak untuk disebutkan adalah veteran komik sejarah John Lent yang telah menyediakan ruang untuk laporan mengenai beragam kartun dan cerita grafis dari seluruh dunia dalam The International Journal of Comic Art (Jurnal Internasional mengenai seni komik) (IJOCA) semenjak 1999. Beberapa di antara pengarang-pengarang ini turut berkontribusi di dalam bunga-rampai terbaru Southeast Asian Cartoon Art (2014) (Seni Kartun Asia Tenggara) yang disuntingnya. Di samping upaya kritis dan upaya secara ilmiah seperti ini, suatu antologi yang penting tentang karya komik juga harus dimulai: Liquid City yang bunga-rampai ketiganya baru saja diterbitkan (Liew 2008; Liew & Lim 2010; Liew & Sim 2014). Setiap bunga-rampai tersusun atas lebih dari satu lusin cerita pendek yang dikarang oleh seniman dari Asia Tenggara, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dan buku ini tidak memerlukan sebuah penghargaan Eisner (untuk bunga-rampai yang kedua) untuk mengingatkan kita pada fakta, bahwa studi apapun tentang komik – apakah itu dimotori oleh ilmu politik, ketertarikan sosiologis atau estetika – pada akhirnya bergantung pada ketersediaan dari karya-karya yang menjadi bahan studi itu sendiri. 

Jaqueline Berndt
Universitas Kyoto Seika

(Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Michael Andreas Tandiary)

Kyoto Review of Southeast Asia. Issue 16 (September 2014) Comics in Southeast Asia: Social and Political Interpretations

liquidcity_volume3

“Liquid City has established itself as one of the most intriguing anthology series on the comic landscape … the collection featuring the work of Southeast Asian creators is … one of the most beguiling collections of talent largely unknown in the west, and provides a wealth of curious comics in each volume.” Comics Alliance

Daftar Pustaka

 Anderson, Benedict R. O’G, 1973, “Cartoons and Monuments: The Evolution of Political Communication under the New Order”, id., Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia, Ithaca, (New York: Cornell University Press, 1990), pp. 152-193.
Berndt, Jaqueline. 2010, ed. Sekai no komikkusu to komikkusu no sekai [Comics Worlds and the World of Comics] (Global Manga Studies, vol. 1), Kyoto: International Manga Research Center, ed., pp. 5-15; [bilingual edition, 2 vols, English and Japanese <http://imrc.jp/lecture/2009/12/comics-in-the-world.html]>
_____2014. “Manga Studies #1: Introduction,” Comics Forum (academic website for Comics Studies, Leeds University), 11 May 2014 [3000 words] <http://comicsforum.org/2014/05/11/manga-studies-1-introduction-by-jaqueline-berndt/>
_____2014, ed. Nihon manga to “Nihon”: Kaigai no sho komikkusu bunka o shitajiki ni (Kokusai manga kenkyū 4) [Japanese manga and “Japan,” seen from the perspective of the respective comics cultures abroad], Kyoto: International Manga Research Center.
Cheng Chua, Karl Ian Uy, and Kristine Michelle Santos, “Firipin komikkusu no ‘shi’ nitsuite” [The “Death” of Philippine Komiks], in J. Berndt, 2014, pp. 159-180.
Darmawan, Ade and Takahashi Mizuki, eds, Kaldu Ikan: komik Indonesia + Jepang (comics anthology, in Indonesian), (The Japan Foundation, 2008).
Gan, Sheuo Hui, “Manga in Malaysia: An Approach to Its Current Hybridity through the Career of the Shojo Mangaka Kaoru,” in Ōgi, Fusami, J. Berndt & Cheng Tju Lim, “Women’s Manga beyond Japan: Contemporary Comics as Cultural Crossroads in Asia,” IJOCA, vol. 13, no. 2 (Fall 2011), pp. 164–78.
Goethe Institut Jakarta, 2012-2013. City Tales (Comics Blog) <http://blog.goethe.de/CityTales/pages/about_E.html>.
_____2014. City Tales (book edition, only available via Goethe Institut).
Kusno, Abidin, “Master Q, Kung Fu Heroes and the Peranakan Chinese: Asian Pop Cultures in New Order Indonesia,” in Otmazgin & Ben-Ari, eds, 2013, pp. 185-206.
Lent, John, ed., 1999, Themes and Issues in Asian Cartooning: Cute, Cheap Mad, and Sexy, Bowling Green: Bowling Green State U Popular P.
_____2001, Illustrating Asia: comics, humor magazines, and picture books, (Honolulu: University of Hawaii).
_____2004. Comic art in Africa, Asia, Australia, and Latin America through 2000: an international bibliography, (Westport CT: Praeger).
_____2011. “Cambodian, Vietnamese Comic Art: A Symposium,” IJOCA, vol. 13, no. 1 (spring), pp. 3-108.
_____2014, ed. Southeast Asian Cartoon Art: History, Trends and Problems, (Jefferson, NC: McFarland).
Liew, Sonny, Liquid City Volume 1, (Berkeley: Image Comics, 2008).
Liew, Sonny, and Lim, Cheng Tju, eds, Liquid City Volume 2, (Berkeley: Image Comics, 2010).
Liew, Sonny, and Joyce Sim, Liquid City Volume 3, (Berkeley: Image Comics, 2014).
Lim, Cheng Tju, 2010. “Lest We Forget: The Importance of History in Singapore and Malaysia Comics Studies,” in J. Berndt 2010, pp. 187-200.
_____2013. “Singapore Comics,” IJOCA, vol. 15, no. 1 (spring), pp. 723-733.
Otmazgin, Nissim, “Popular Culture and Regionalization in East and Southeast Asia,” in Otmazgin and Ben-Ari, eds, 2013, pp. 29-51.
Otmazgin, Nissim, and Eyla Ben-Ari, eds, Popular Culture Co-productions and Collaborations in East and Southeast Asia, Kyoto CSEA Series in Asian Studies 7 (Singapore: NUS Press, in association with Kyoto University Press, 2013).
Otmazgin, Nissim, and Eyla Ben-Ari, “Introduction: History and Theory in the Study of Cultural Collaboration,” in Otmazgin and Ben-Ari, eds, 2013, pp. 1-25.
Shiraishi, Saya. 1997. “Japan’s Soft Power: Doraemon Goes Overseas,” Peter Katzenstein & Takashi Shiraishi, eds, Network Power: Japan and Asia, (Cornell University Press), pp. 236-249.
_____2013. “Umi o koeta Doraemon, id. Gurōbaruka shita nippon no manga to anime, Tokyo: Gakujutsu shuppan, pp. 19-27.
_____2013. Gurōbaruka shita nippon no manga to anime, (Tokyo: Gakujutsu shuppan).
Sihombing, Febriani, “Komikku o ‘seijika’ suru ‘eikyō’ron to ‘yōshiki’ron—Indoneshia no komikku gensetsu nitsuite” [The ‘Politicization’ of Comics by ‘Influence’ and ‘Style’: On Comics Discourse in Indonesia], in J. Berndt, ed., 2014, pp. 59-84.
ojirakarn, Mashima. 2014. “Tai komikkusu no rekishi: Tayō na manga bunka no aida de keisei sareta hyōgen” [A History of Thai Comics: Formation of Style in-between a Comics Cultures], in J. Berndt, ed., 2014, pp. 85-118.
_____2011 “Why Thai Girls’ Manga Are Not ‘Shōjo Manga’: Japanese Discourse and the Reality of Globalization”, in Ōgi, Fusami, J. Berndt & Cheng Tju Lim, “Women’s Manga beyond Japan: Contemporary Comics as Cultural Crossroads in Asia,” IJOCA, vol. 13, no. 2 (fall 2011), pp. 143–63.

Notes:

  1. Satu indikasi tentang ketidakpentingan ini dengan satu jenis komik tertentu, misalnya manga, adalah, sebagai contoh, ketidaksadaran akan judul yang telah ditetapkan: Hana yori dango dikenal di seluruh dunia bukan dengan “Men are better than flowers” (Otmazgin 2013: 39) tetapi dengan “Boys over flowers;” contoh lain yang serupa adalah pengejaan yang salah dari “Crayon Sinchan” [pengejaan yang benar: Shinchan] (Kusno 2013).
  2. Peran dari produk-produk media berbahasa Cina yang telah lama diabaikan di dalam penyebaran budaya manga Jepang telah ditunjukkan baru-baru ini oleh Kusno (2013) dan juga Shiraishi (2013: 82-83).
  3. Seniman komik berikut turut berpartisipasi di dalam proyek yang diberi judul Kita! Japanese Artists Meet Indonesia: Agung Kurniawan, Beng Rahadian, Dwinita Larasati, Eko Nugroho, Kondoh Akino, Nishijima Daisuke, Oishi Akinori, Shiriagari Kotobuki.
  4. LihatCheng Chua & Santos (2014), Gan (2011), dan khususnya layak untuk disebutkan Febriani Sihombing (2014), dan Mashima Tojirakarn (2011, 2014).