Site icon Kyoto Review of Southeast Asia

Kenangan-Perlawanan: Memainkan Ulang Kekerasan Politik dalam Sinema Digital Thailand

Berpusat pada terminologi Thailand untuk kenangan khwamsongcham = ความทรงจำ adalah song, yang secara literal artinya bentuk atau perantara. Kata khwamsongcham sendiri menempa perwujudan masa lalu (walaupun selalu ditafsirkan), dan menandai kapasitas untuk perubahan kenangan melalui berbagai bentuk dan perantara, meliputi praktik-praktik sosial dan kebudayaan material. Seseorang berkomitmen kepada perwujudan kenangan karena ada ketakutan akan melupakan. Thailand telah mengalami 12 kudeta militer yang sukses sejak transisi dari monarki absolut di tahun 1932. Kemunculan kekuasaan militer saat ini menelurkan pengalaman déjà-vu yang sayangnya belum memicu perlawanan dalam ruang publik Bangkok borjuis, sehingga penulis melihat penguatan narasi besar yang cukup jenuh dalam ketahanan nasional dan pemeliharaan tatanan sosial. “Rasa dan bau” dari otoritarianisme militer ini telah menghasilkan keakraban sehingga kudeta militer bisa dirayakan di 2006 dan ditolerir di 2014 sebagai sesuatu yang dapat diterima oleh minoritas borjuis – atau sudahkah? Sementara liputan media utama mungkin menyiratkan bahwa Thailand menerima aturan militer dan status quo, penulis berpendapat bahwa sinema berdikari (independent cinema) berfungsi sebagai perlawanan rakyat, menawarkan perlawanan melalui ambiguitas politik. 1

Kebudayaan Perlawanan-Rakyat dalam Film Thailand

Dalam konteks otoriter Thailand masa kini, ruang publik dari pers, jaringan sosial dalam jaringan, dan situs jaringan 2.0 telah menyusut. Meski demikian, perlawanan publik mikro dan pergerakan sosial subversif telah meningkat. Tatanan moral telah digabungkan dengan ketahanan sosial, penyerangan atas pemikiran dan ungkapan terlihat mengancam tatanan ini dapat dihukum dengan denda pengadilan, denda, pembatalan paspor, pengasingan, dan hukuman penjara. Semakin tingginya sensor negara tidak melumpuhkan perbedaan pendapat, tetapi memunculkan sinema Thailand yang terpolitisir dan berdikari, diaktifkan oleh teknologi baru dalam produksi dan pengawasan seni, dan jalur baru dalam distribusi melalui media sosial.

Seperti yang diungkapkan Michael Warner, “Ketika publik-publik alternatif berperan sebagai gerakan sosial, mereka memperoleh lembaga dalam kaitannya dengan negara. Mereka memasuki politik keduniawian dan menyesuaikan diri dengan pertunjukan wacana kritis rasional. Pada umumnya, dalam melakukan perlawanan publik adalah dengan menyerahkan harapan asli untuk mengubah, tidak hanya kebijakan, tapi juga ruang kehidupan publik itu sendiri.” 2 Penolakan dari para intelektual dan pembuat film di Thailand untuk membatasi ketidaksepakatan mereka di ruang privat, telah menghasilkan kemunculan ruang-ruang seni alternatif-mikro (kafe-kafe, galeri-galeri) dan partisipasi dalam jaringan akses terbuka dalam Youtube dan Situs Web 2.0. Publik-publik perlawanan-mikro beroperasi melalui sindiran ambigu dan makna ganda untuk menolak penangkapan yang dilakukan rezim.

Penyensoran film oleh negara pertama kali di Thailand (pada saat itu bernama Siam) adalah Undang-undang Sinema Tahun 1930. Dalam dekade ini telah ditegakkan aturan penyensoran dan perkembangan hukum lèse majesté melalui perubahan Pasal 112 dari Hukum Pidana (1956, 2007), Undang-undang Kejahatan Komputer (2007), dan Undang-undang Ketahanan Dalam Negeri (2008). Juga dalam dekade yang sama telah muncul produksi dan pemutaran film publik atas lebih dari duapuluh film-film berdikari di berbagai perayaan film domestik utama atau internasional. Di Thailand, sinema berdikari sangat bergantung pada tempat-tempat perkotaan seperti kafe-kafe, galeri-galeri, konsulat-konsulat, dan universitas-universitas. Menurut kritikus film Kong Rithdee, Yayasan Film Thailand (Thai Film Foundation) 3 telah “memainkan peran yang cukup penting dalam pembuatan ruang publik bagi para pembuat film pendek dan berdikari di Thailand… mendemokratisasikan film atau film digital” melalui sejumlah lokakarya, pemrograman dan perayaan. 4 Dalam konteks ini, sinema berdikari telah membuka arena untuk memutar-ulang dan mengingat kekejaman politik.

Sebagai perlawanan-publik, film-film berdikari telah memperhatikan dengan seksama sejumlah kenangan/sejarah dan estetika sinema yang redup. Film-film yang dibahas di bawah ini memiliki semua keunggulan ini. Kriteria kami untuk pemilihan meliputi percakapan tiap-tiap film dengan kekejaman politik yang berulang di Thailand, pemutaran film di ranah publik dalam lebih dari satu kesempatan, dan/atau peredaran ulang pada media berita kiri-tengah dalam jaringan akses terbuka seperti situs prachatai.

Sebuah Percobaan Kenangan Dokumenter: Terrorist (2011)

Film Terrorist karya Thunska Pansittivorakul telah memiliki panggung yang berlawanan yang memainkan kembali beberapa adegan dari kekerasan politik nasional bersamaan dengan kenangan kekeluargaan intim. Film tersebut secara keseluruhan sangat sulit untuk diperoleh, tidak terdistribusi melalui pasar DVD/CD, dan tidak pula tersedia penuh pada panggung akses terbuka seperti YouTube. Cuplikan iklannya terang-terangan mengejutkan kita dengan seorang pria bermasturbasi disandingkan dengan adegan kekerasan politik baru-baru ini di jalanan kota Bangkok pada tahun 2010. Pengalaman menontonnya adalah perwujudan mendalam dari kekerasan seksual dan fisik serta kepuasan secara serentak. Untuk menghindari adegan telanjang, kutipan dari sumber berita situs prachatai hanya menampilkan adegan-adegan kekerasan politik.

 

[youtube id=”bxwS3WN1NTA” align=”center” maxwidth=”800″]

 

Pendampingan dari sejarah lisan mengenai bagaimana ibunda si pembuat film (Thunska) bergabung dengan Partai Komunis Thailand dengan foto Thunska sebagai anak kecil dengan ibunya, dan foto dari pembantaian masal pada 6 Oktober 1976 membuat bagian dari film ini sangat luar biasa. Foto-foto menunjukkan bahkan kenangan yang paling pribadi dari kita. Foto-foto juga dapat menawarkan kesaksian sempurna dari faktor kekejaman dan mengejutkan dari pembantaian masal pada Oktober 1976. Dalam mendokumentasikan kekejaman tersebut dengan memproduksi ulang adegan-adegan kekerasan, foto-foto dapat juga merendahkan baik mereka yang terbunuh dan “kaum nasionalis sipil dan pejabat-pejabat negara” yang ikut mengambil bagian dalam kekerasan. 5

Boundary (2013)

Secara komersial ditayangkan di bioskop-bioskop utama di Thailand dan Vimeo dengan kategori umur di atas 18 tahun, Boundary (2013) mengisahkan kehidupan seorang anak muda yang direncanakan untuk berpartisipasi dalam penindasan Selatan, pertempuran Preah Vihear tahun 2008 antara Thailand dan Kamboja, dan kemudian dikirim untuk menekan kelompok Kaos Merah pada Mei 2010. 6 Judul asli film tersebut Fatum Paendin Soong “Sky is low, Dirt is high” memancing kontroversi dengan tampil menantang ketimpangan sosial dan stratifikasi sosial di Thailand. 7 Dalam batas-batas Thailand dikenal sebagai “khet daen.” Menurut sutradara Nontawat Numbenchapol, “Arti pertama dari batas adalah sesuatu yang membagi penduduk desa miskin dari kelas menengah yang oportunis di Bangkok. Batas yang kedua membagi warga Kamboja jauh dari Thailand dengan perbatasan…Saya ingat berdiri di gunung Preah Vihear di perbatasan dan merasa bahwa pada tempat itu, langit dan daratan tergabung dan ada bersama-sama. Itu adalah metafora untuk harapan bahwa Thailand suatu hari akan berdamai.” 8 Pada intinya, film ini mewujudkan masa sekarang, masa lalu dan sebaliknya melalui pembangunan wilayah dan batas bangsa.

 

[youtube id=”ONvbctIqjso” align=”center” maxwidth=”800″]

 

Film versi editan sutradara menampilkan rekaman dari perayaan ulang tahun ke-83 Raja di persimpangan Ratchaprasong di Bangkok, menggantikan pembantaian kelompok Kaos Merah di situs yang sama hanya sebulan sebelumnya, dengan upeti kerajaan, kegembiraan dan perayaan. Menampilkan kedua adegan secara berdampingan tersebut mengundang refleksi atas beberapa arti tempat, dan mengajukan pertanyaan bagaimana mungkin perayaan bisa menggantikan noda pembantaian? Makna ganda inilah yang menyebabkan Lembaga Penyensoran Thailand meminta adegan tersebut dihapus, dan sutradaranya memenuhi permintaan tersebut. Sejak diperkenalkannya Pasal 112 pada tahun 2007, pejabat-pejabat negara telah memusatkan perhatian atas pengawasan setiap ucapan tentang monarki, menjadikan sasaran pelanggar kejahatan pada negara sebagai orang-orang berbahaya yang merupakan ancaman bagi pemerintah.

Demikian pula, garis batas Thailand-Kamboja dibangun dari masa lalu yang rumit, mewujudkan memori nasional mengenai seorang musuh melalui masalah-masalah politik dalam negeri. Sebagaimana karya Pavin Chachavalpongpun, Charnvit Kasetsiri dan Pou Sothirak menyarankan bahwa batas Thailand-Kamboja didasari oleh sejarah, kenangan, politik dan hubungan ekonomi. 9 Batas digunakan di sini tidak dalam arti harfiah melainkan untuk menandakan gerakan antara nasionalisme ekstrim, menjadikan musuh atau teman, ditentukan oleh suhu masalah politik dalam negeri.

A Brief History of Memory (2010)

A Brief History of Memory diproduksi oleh Chulayarnnon Siriphol dan telah ditayangkan beberapa kali, termasuk di perayaan film pendek internasional Bangkok, Perayaan Film Percobaan, dan Konferensi Sinema Asia Tenggara. Siriphol memilih untuk mengedepankan masalah politik yang relatif sensitif: hilangnya kehidupan melalui kekerasan politik saat ini. Film ini tiada keraguan adalah kenangan perlawanan-publik. Daripada memusatkan perhatian pada kekerasan tahun 2010 (peristiwa sudah menjadi perhatian publik), film ini berpusat pada tindakan kekerasan lebih awal, kurang dikenal dari awal 2009 pada komunitas Nang Lerng.

 

[youtube id=”yLR-e2FqJj8″ align=”center” maxwidth=”800″]

 

Adegan terakhir berpotongan bersilangan pada rapat umum peringatan untuk para demonstran Barisan Persatuan untuk Demokrasi Melawan Kediktatoran (UDD) pada 2010. Ketika diwawancarai di tahun 2016, Siriphol menjelaskan bahwa “Saya percaya bahwa kenangan merupakan sejarah singkat bangsa kita. Kita perlu untuk mengenal satu sama lain selama waktu-waktu tersebut untuk mengenang para korban ini.” 10

Para korban yang tidak bernama jarang dikenang secara resmi di ruang publik. A Brief History of Memory berupaya untuk mewujudkan hilangnya kehidupan melalui upeti dan proses mengenang.

Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (2010)

Dalam film Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (2010) karya Apichatpong Weerasethekul, penonton, seperti tokoh utama, dikelilingi oleh kegelapan. Di dalam adegan kematian terakhir, Paman Boonmee memanjat secara perlahan menuju sebuah gua gelap dan terlihat perlahan-lahan ke atas sementara keluarganya bergabung dengannya di saat-saat terakhirnya, diselingi dengan foto-foto tentara muda. Pertemuan antara foto-foto tentara muda yang dipentaskan, dan monolog napas terakhir Paman Boonmee menunjukkan bahwa ketika masa lalu terungkap oleh seseorang, orang tersebut akan dibuat menghilang.

 

[youtube id=”Jk-EoUb0nvg” align=”center” maxwidth=”800″]

 

Sebuah alternatif, membaca antar teks akan menunjukkan bahwa adegan sekarat Paman Boonmee memaksa bangsa untuk merefleksikan Perang Dingin di Propinsi Northeast melalui sindiran untuk foto-foto dari orang-orang muda memakai seragam militer dimunculkan di proyek instalasi Apichatpong yaitu Primitive’s. Foto-foto ini dipotret di Nabua, Khon Kaen, Chaiyapum, dan Loei menyerukan perang pertama tahun 1965 yang terkenal antara Partai Komunis Thailand dan pejabat negara yang berwenang 11 Daripada mengakhiri dengan acuan masa Perang Dingin dari kematian Paman Boonmee, adegan-adegan terakhir menunjukkan karakter-karakter yang masih hidup menonton siaran berita televisi dari kekerasan politik tahun 2009. Masa lalu tertanam di masa sekarang dengan kemungkinan firasat kekerasan masa depan yang belum datang.

Perlawanan-Publik Dua Makna

Dalam sepuluh tahun terakhir, penyensoran dan kekerasan politik di Thailand telah meningkat semakin luas dalam hal pelaksanaan dan memiliki dua makna dalam penafsiran. Sejumlah tulisan karya Craig Reynolds (2000), Thongchai Winichakul (1999), dan Malinee Khumsupa (1998) menunjukkan melalui analisis monumen demokrasi bahwa makna tidaklah terbukti sendiri, namun berakar dalam makna yang dijiwai oleh penafsiran ulang. 12 Rosalind Morris (1998) dan Alan Klima (2002) berpendapat bahwa penyebaran berlebihan dari gambar-gambar korban kekerasan Mei Hitam 1992 beroperasi dalam mode kapitalis nilai dan keterasingan. 13

Bertemunya ruang dan waktu nyata dengan kehidupan sosial dalam jaringan, melalui perangkat-perangkat seperti YouTube, Vimeo, Facebook, Twitter, dan LINE adalah keadaan baru dari perlawanan-publik subversif, dengan jumlah yang banyak seperti kecemasan nasionalis mematikan yang telah mendominasi ranah publik bangsa. Melalui media sosial, jangkauan film-film ini adalah secara bersamaan menyentuh perseorangan dan massa, berulang-ulang dan seketika, dan di luar kendala ruang dan waktu nyata. Ruang-ruang mikro dari arena virtual seperti YouTube dan Vimeo dan tempat skala kecil seperti toko-toko buku, klub-klub film atau pameran seni, mengirim pesan melalui telepon genggam dan komputer-komputer pribadi di mana saja dan kapan saja. Mengambil isyarat dari ilmuan sosial seperti Manuel Castels, kita bisa menganggap ini semua sebagai sebuah gerakan sosial baru dari praktik-praktik budaya era dunia maya yaitu perseorangan (privat) dan publik di masyarakat global kita secara bersamaan. 14 Sinema yang berjaringan budaya global ini, kami berpendapat, punya peran dalam sebuah rasa wacana kritis khas Habermas. 15

Tuntutan pada kenangan yang diwujudkan oleh film yang didiskusikan di sini, menantang logika pasar melalui praktik-praktik berkabung yang dipolitisasi. Di dalam film Terrorist, berbagai kenangan menyakitkan perseorangan berlawanan dengan kenangan traumatis nasional. Di dalam A Brief History of Memory, seorang ibu kehilangan anaknya tetapi mempercayakan anaknya untuk diabadikan dalam kenangan-perlawanan terhadap kekerasan negara. Sama halnya dengan A Brief History of Memory, Boundary menceritakan kisah seorang anak muda biasa yang terkena wajib militer, dan menawarkan sebuah kenangan-perlawanan terhadap nasionalisme yang umum. Yang terakhir, dalam Uncle Boonmee Recalls his Past Lives, orang biasa yang ikut serta dalam perang negara melawan komunisme berfungsi sebagai perlawanan-kenangan terhadap kenangan nasionalis umum, yang mungkin dia tidak akan pernah masuk dalam sejarah nasional Thailand. Dengan menggambarkan paralel dengan kenangan perseorangan yang menyakitkan, film-film ini memungkinkan penonton untuk menghubungkan antara kekerasan negara saat ini dan kekerasan politik masa lalu, sementara gerakan lambat dan pengobatan mengulang kenangan pribadi dan/atau sejarah kekerasan politik, menggarisbawahi kegigihan kekerasan negara di Thailand.

Malinee Khumsupa
Jurusan Ilmu Politik dan Administrasi Publik, Universitas Chiang Mai
Sudarat Musikawong
Sudarat Musikawong, Jurusan Sosiologi, Universitas Siena

Issue 20, Kyoto Review of Southeast Asia, September 2016

 

Notes:

  1. Thomas Fuller/ Mike Clarke/Agence France-Presse (Foto seorang Biksu berpose bersama Tank), ‘Thai Junta Imposes Curbs on News Media ‘, New York Times, September 22 2006 p. Front page. Bbc, ‘Why Is Thailand under Military Rule?’, (http://www.bbc.com/news/world-asia-25149484, 2014a). Bbc, ‘In Pictures: Protests against Thailand Coup’, (http://www.bbc.com/news/world-asia-27553025, 2014b).
  2. Michael Warner, ‘Publics and Counterpublics’, Public Culture, 14/1 (January 2002), hal. 49-90., 52, 89.
  3. Yayasan Film Thailand adalah sebuah lembaga nirlaba yang didirikan oleh beberapa “penggiat film” di tahun `994 untuk “menyokong budaya film di Thailand” Lihat: http://www.thaifilm.com/aboutUs_en.asp (diakses 16 Juni 2016)
  4. Wawancara telepon Kong Rithdee, 20 Feb. 2016.
  5. Lihat Rosalind Morris, ‘Surviving Pleasure at the Periphery: Chiangmai and the Photographies of Political Trauma in Thailand, 1976-1992’, Public Culture, (1998), hal. 341-70., 362, 367 dan Alan Klima, The Funeral Casino: Meidation, Massacre, and Exchange with the Dead in Thailand (Princeton, NJ: Princeton University Press, 2002)., hal. 82-83.
  6. Untuk lebih lanjut tentang Preah Vihear, dan militerisasi perbatasan Thailand-Kamboja, lihat Charnvit Kasetsiri et. al.,“Preah Vihear: A Guide to the Thai-Cambodian Conflicts and Its Solutions”(White Lotus:Bangkok) Thailand, 2012.
  7. Untuk lagu, lihat: https://www.youtube.com/watch?v=9KYRypaqKNk [diakses tambahkan tanggal]
  8. Wawancara televisi Nontawat Numbenchapol [diakses 13 Maret 2016 dari: https://www.youtube.com/watch?v=VtZwFbgKSYg]
  9. Kasetsiri et al., Preah Vihear: A Guide to the Thai-Cambodian Conflict and Its Solutions , hal. 1-50.
  10. Chulayarnnon Siriphol diwawancara oleh Malinee Khumsupa, Chiang Mai, 10 Maret 2016.
  11. http://www.kickthemachine.com/page80/page22/page13/page62/index.html  http://isaanrecord.com/2015/08/13/northeasterners-mark-50th-anniversary-of-the-communist-armed-struggle/
  12. Craig Reynolds, Icons of Identity as Sites of Protest: Burma and Thailand Compared, Academia Sinica Prosea Research Paper No. 30 (Maret 2000). Thongchai Winichakul (1999), “Thai Democracy in Public Memory: Monuments and Their Narratives,” Keynote, 7th Annual International Conference on Thai Studies, Amsterdam, 4-8 Juli 1999. Malinee Khumsupha (1998) “Political Implications of Democracy Monument in Thai Society, MA Thesis, Faculty of Political Science Thammasat University.
  13. Rosalind Morris, ‘Surviving Pleasure at the Periphery: Chiangmai and the Photographies of Political Trauma in Thailand, 1976-1992’, Public Culture (1998), hal. 341-70; Alan Klima The Funeral Casino: Meditation, Massacre, and Exchange with the Dead in Thailand (Princeton, N.J.: Princeton University Press, 2002).

  14. Manuel Castells, The Rise of the Network Society: The Information Age: Economy, Society and Culture (Oxford, UK: John Wiley & Sons, 2000).
  15. Jurgen Habermas, ‘Further Reflections on the Public Sphere’, dalam Craig Calhoun (ed.), Habermas and the Public Sphere (Cambridge, Mass: MIT Press, 1996). Jurgen Habermas, The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Bourgeois Society, diterjemahkan oleh Thomas Burger (Cambridge, Mass.: MIT Press, 1989, pertama kali terbit1962).
Exit mobile version